Petani campur warga Desa Lawonua Kec. Beselutu , Kabupaten Konawe  terletak pada wilayah kawasan yang berada di sekitar hutan, kebun sawit dan sempadan hilir sungai Konaweha yang panjang dan membentang luas.  Penduduk Desa Lawonua terdiri dari beberapa suku yang mendiami dilokasi lahan pertaniaan. Suku tersebut adalah Tolaki , Makasar dan Bugis. Keberadaan Suku asli  dan pendatang mempengaruhi segala bentuk kehidupan di desa lawonua dari tingkat mata pencaharian dan perkembangan desa. Pekerjaan mereka bagaikan tanpa akhir karena kebun terus saja diolah.  Kerja dikebun tidak akan ada habisnya  terutama  bagi petani yang menanam kakao dicampur dengan tanaman Lada.

Salah satu tanaman yang sedang lagi naik daun adalah lada yang digemari oleh semua petani  baik yang ada di Desa Lawonua maupun desa-desa seputarnya. Budidaya lada dikenalkan kembali ketika Program AgFor masuk di desa ini , Desa Lawonua sebagai lokasi percontohan yang terpilih dalam kegiatan pengelolaan pembibitan dan kebun belajar Agfor. Dimana proses awal kebun campur (kakao,langsat,karet,Lada) di Desa Lawonua dirintis oleh petani, maupun dari program pemerintah.  Namun pembibitan tanaman berbuah dan Lada sangat jarang sekali ditemukan.

Sehingga tahun 2012, Agfor masuk dengan berbagai pembelajaran dan Praktek belajar langsung  dengan  Petani  Agfor  Lawonua berupa  Praktek Pembibitan dan Perbanyakan Tanaman , Belajar  Mengamati  Manfaat Pola Naungan cacao di Kebun Campur dengan komoditi lainnya, Proses Pembuatan Pestisida nabati dan Pupuk cair menggunakan alat sederhana, dan belajar pemangkasan komoditi  Cacao. Menanam   Okulasi karet dengan kakao sebagai alternative pola tanam campur.

Namun ada satu praktek  yang diajakan dari program Agfor dimana tanaman merica dipangkas satu ruas  yang sangat dirasakan oleh petani  pertumbuhannya sangat cepat, pekerjaan mereka membibit bagaikan tanpa akhir karena bibit lada sangat mudah didapat ,dibudidaya dan bisa ditanam di pembibitan masing masing, “Stek satu ruas ini terus dipraktekan petani “ ujar Hasanudin, Koordinator penyuluh BP3KKP, Kecamatan Beselutu, Konawe , Kamis ( 28/7).  Agus (41), warga kampung dusun 2 Desa Lawonua  kecamatan Beselutu , Kabupaten Konawe , mengakui sering memergoki orang yang sengaja belajar  stek satu ruas , sekaligus stek dari tanaman lada yang terhindar dari hama penyakit sesuai arahan AgFor. “Biasanya sekitar pagi dan sore  petani ada saja yang membuat bibit, terpantau olehnya ada sekitar 5-10 pembibitan swadaya yang bermunculan di petani Desa Lawonua yang awalnya dari pembibitan Kelompok Tani Bersatu AgFor”.  Lada ini setelah distek lalu dibibitkan pake polybag , kalau dulu stek tiga ruas , hanya ditanam langsung di tanah kebun, biasanya lama pertumbuhannya juga banyak yang mati, sambil menunjuk tanganya ke tanaman Lada dikebunya.

Pernah kami Belajar dari AgFor, ketika itu ibu dyah Manohara dari Balitro memberikan ilmu perbanyakan tanaman lada satu ruas, juga berbagai teknis stek lada dan cara menanamnya sudah ditemukan petani , tetapi stek satu ruas itu yang sekarang merebak ke setiap petani. “Kami disini belum pernah belajar budidaya merica, baru ada Agfor sehingga kami paham” tambah Mustakim lagi.  Memang kegiatan yang dilakukan oleh program Agfor dalam rangka penguatan dan peningkatan kapasitas petani. Dimana rutinitas pak agus dan mustakim  (Desa Lawonua) mendampingi dengan prakteknya selalu aktif melakukan bimbingan. Pembelajaran sudah mereka lakukan tanpa pamrih, bahkan pembibitan lada mereka laku dijual dan sekarang mereka menjadi distributor bibit keberbagai wilayah selain memelihara kebun. Kegiatan usaha pak Agus khususnya, memotivasi para petani  untuk berjiwa bisnis supaya bisa mandiri, keseharianya  menjual sayuran kepasar tradisional sekitar pondidaha. Distribusi buah buahan durian ketika musim dikota kendari, saya ini hanya ingin berusaha dan berbuat sehingga bisa menjadi contoh bagi petani lainnya menjadi petani pengusaha” Imbuhnya dengan senyuman khasnya yang ramah dan bersahabat.

Petak kebun lada dikebunnya selalu dirawat, apalagi jadi contoh dalam peran swadaya yang sudah dilakukan ke berbagai petani binaan AgFor, tentu tidaklah mudah bagi petani penyuluh menemukan cara efektif dalam membina para petani.  Karena selain kondisi mereka , bagi petani sekampung sudah ada kebiasaan petani konvensional yang mendarah daging dari sejak duloe.  Sehingga para petani yang turun temurun mengikuti kelola kebun dengan melihat dulu baru mau melaksanakan baik di tempat lain maupun tetangganya, jika berhasil maka petani mengikuti sesuai apa yang dilihat petani itu, seperti pembelajaran dalam budidaya stek satu ruas tanaman lada.

Jejak jejak pembibitan terlihat nyata tidak hanya didesanya, tetapi menyebar luas ke desa tetangga dantara Desa Lawonua. Hasanudin, mengakui bahwa pihaknya selalu membantu kiprah petani dalam menyebarluaskan informasi ke seluruh desa binaan kami, bahkan petani datang sendiri kekantornya untuk menanyakan stek lada, kami suka panggil pak mustakim dan Pak Agus dalam melatih petani secara mandiri..katanya. Salah satunya desa onembute pembibitan lada denga stek satu ruas sudah dipelajari petani hampir seluruh penduuk desa onembute mengetahuinya. Stek lada kami jual karena banyak pembali masuk desa membeli bibit lada , bahkan petani disini menjual pembibitan pinggir jalan utama poros kendari unaha yang berada di sekitar desa” ujar Agustang (35 th), Desa Onembute,Kecamatan Beselutu. Kesuksesan ini diraih dari hasil Temu Rancang Perbaikan kebun (TERAPIK) para penyuluh dengan cara makan minum kopi dan masonggi yang sudah  membudaya dimasyarakat beselutu , sehingga mempermudah menyebarkan informasi ke seluruh petani di desa terdekat.(kisah petani lada @hegar)