Tanah airku Indonesia , Negeri elok amat kucinta , Tanah tumpah darahku yang mulia, Yang kupuja sepanjang masa, Tanah airku aman dan makmur, Pulau kelapa yang amat subur , Pulau melati pujaan bangsa, Sejak dulu kala…lirik lagu ciptaan ismail marzuki mengingtkan kita akan keindahan dan kelelokan negeri kita yang dihiasi melambainya kelapa, namun sekarang kelapanya berubah menjadi Kelapa eS…!

Sebuah Hutan yang selalu diproduksi  akan nampak amburadul, bahkan bentuk apapun ketika mengelola sudah tidak bisa sama seperti hutan sebelumnya, juga sertifikasi tidak bisa menolong, hanya menguras dana perusahaan dan mungkin memberi pekerjaaan banyak konsultan, tetapi hutan tetap saja rusak.  Masalah dasarnya tidak pernah tersentuh yaitu tersedianya kawasan hutan yang clean and clear, organisasi rakyat yang besar dalam hal ini “pemerintah” menyerahkan konsesi yang tidak clean and clear kepada swasta, kemudian menyerahkan kepada pemegang konsesi untuk menyelesaikannya sendiri.  Kalau masalah dasarnya tidak tersentuh, apapun perbaikannya (Seritifikasi, PHPL, SVLK) hanya  seperti pengharum ruangan di ruangan yang kotor

Semua betul sudah terjadi dan bahkan ikut harum dalam mengharumkan tapi ruang masih kotor, karena  Makna Sehat, ekonomis, bersih dan Selesai  dalam kelola apapun belum bisa Setara. Jika kita belajar dan sadar juga ikut metode So Klin  yang biasa mencuci bersih semua kuman dan halangan mana ada piring tidak bersih malahan menjadi kinclong,  Tentunya hutan juga demikian itu, sebuah harga yang harus dibayar mahal ketika merusak hutan,  berharga lho hutan itu , akan mahal lho ketika sebuah jasanya diperoleh, tetapi terbalik ini mah, sekarang hutan itu murah , kaena pohonya eweuhhh ..penuh hama dan penyakit . Yang dirasakan oleh pribados =saya, masuk hutan dan Kehutanan bukan nyaman tenang dan segar, tapi malahan sesak napas, sudah panas karena terbuka canopinya, juga kelihatan puncaknya jadi ogah ditambah banyak polusi racun kimia karena kakao dicemprot  racun, kebun kelapa sawit di buang ular  dsb, Akhirya suatu saat manusia indonesia butuh oksigen, ketika itu harus mencari oksigen yang harus beli di swalayan seharga diatas botol air Aqua ,na u uzdu bilah mindahlik. 

Menyimak Fenomena itu,  hutan yang memang rumah=imahnya ekosistem bertumbuhan pohon semakin murah, yang mahal dan  banyak dicari bukan jasa lingkungan ekosistem hutan, tetapi lahan tempat hutan itu tumbuh, untuk dikonversi menjadi  sawit yang tidak tahu sampai kapan ini memberikan manfaat.  Luas perkebunan sawit saat ini sekitar 11 juta Ha, tetapi land-bank (lahan yang telah dikuasi oleh penguasaha untuk dijadikan Sawit) konon telah mencapai 10 juta, 5 juta ha di Papua, 3 juta Ha di perbatasan Kalimantan dan 2 juta di Sulawesi, di Sumatra ..mah atos sarareeep (habis) lahannya. Bagaimana kalau suatu saat nanti ditemukan substitusi minyak sawit ?  Sedangkan seluruh nusantara ini telah terlanjur menjadi sawit atau lubang-lubang bekas tambang, sungguh mengerikan negeri dan nasib Ibu Pertiwi  yang kini sedang merintih dan berdoa .. Lagu Rayuan Pulau Kelapa mungkin perlu dirubah menjadi  Rayuan Pulau Kelapa eS = Sawit.

Konteks  yang perlu memang dalam penyadaran kepada masyarakat  harus mencanangkan Desaku yang Lestari  indah dan permai sebagai wujud mimpi rakyat yang harus kenyataan tertuang dalam  sanubari, ibaratnya “engkau yang manis engkau yang cantik engkau yang  elok”…sekarang ini memang, sudah tidak tergambar lagi  karena tergilas oleh deru dan debu  hasil serunya mesin ekploitasi yang sedang beraksi terus lagi melindas tanpa batas.   Memang  tanah dan air (lemah cai) dan rayuan kelapa ini bukan lagi melambai tapi mengeringkan.  No forest No Future  sudah  terjadi, saya mengatakan “Ibaratna cai beak,leuweung rusak , rahayat balangsak“.  Di Konawe , Konawe utara dan kolaka khususnya akses pengembangan agroforest bersaing dengan terbukanya lahan yang juga berisi sawit.  Jika demikian akses lahan ini penting pula diimbangi dengan keberdayaan tanaman unggulan masyarakat,namun dibatasinya hak kelolanya oleh petani dalam mengakses lahan.

Menjadi berdaya ditanah lelulur sesah sekali di lakukan padahal kelola tanah leluhur itu harus lebih mudah  dengan memaknai kearifan sesepuh ,daeng, karaeng atau pupuhu: leuwueng kaian , sempalan kebonan, jurang awian, susukan caian,  Legok balongan, curcor caina  matak indah katingalna.  Tata kelola lahan sudah jauh dari kemauanya dari sifat tanah itu sendiri, lebih kepada kemauan manusia yang seharusnya : batu, pohon, tanah dan air ikut dikelola dan diurus sesuai jalan manusia sebagai mana yang ditulis dalam alquran, ini mah tibabalik  , tiba masa tiba akal,  akalna telat masa-na tiba mirip sampah,lama diolahna  pada akhirnya malahan manusia yang harus tunduk /ikut ke 4 unsur alam “nunutur” dalam kejadian alam berwujud lah menjadi kehidupan yang mengerikan Misalnya banjir, longsor , asap dsb.

Saat ini , sudah terjadi penggatian ruang kelola yang tidak sesuai alamnya hutan menjadi sawit ini menjadi contoh , harta benda terkna Banjir , lapindo menjadi kolam lumpur, Jakarta tenggelam, dsb. Itulah kenapa manusia tidak memuliakan ke empat unsure  yang sudah menjadi fasilitator hidupnya . Selama ini , mengikari dalam konteks penggabungan terhadap (aturan) ranah-ranah alam, memang menyakini bentuk ibadah yang tertinggi tetapi rasa syukurnya kepada  alam yang diciptakan sebagai teman /mitra kita  khianati.  akhirnya : kebersamaan untuk menjaga alam, dan memelihara pohon jadi musnah pagar makan tanaman. Tapi kalau kita oprek , bengkel dan bongkar masih ada lho istilah lokal saur kang siliwangi kapungkur diSunda mah kedah silih wawangian atanapi : Silih Asih, Silih Asah dan Silih Asuh , yang artinya adalah melakukan pemulihan harus dengan rasa cinta kasih rasa karsa berjalan dengan alam, mengasah kepekaan alam dengan terus belajar kepada pohon, air, tanah dan udara sehingga kita di cap sebagai mahluk yang mulia , tidak bisa lagi menentukan bagaimana kita menata  dan mengelola alam agar hidup bermitra dengan alam bukan bermitra dengan perusak alam ini.

Salam suara alam ,

Hegar