Pengumpul rotan sebagian besar tergolong masyarakat biasa, karena kehidupan sehari – hari  mereka mengandalkan hidupnya sebagai petani biasa. Mengambil rotan merupakan pekerjaan sampingan, tetapi mereka bukan petani rotan dan penampung rotan. Penghasilan pengumpul rotan rata–rata tidak tetap per bulan. Tak banyak  didapat  dari pekerjaan mengambil dan mengumpulkan rotan dari hutan lambusango dari beberapa tahun terakhir ini.Selain harganya murah jarak pengambilan rotan sangat jauh.

 

Pekerjaan mengumpulkan rotan, memperoleh hasilnya rata – rata  untuk menutupi kebutuhan bahan pokok. Sosok La hadi  warga wolowa baru dan  La juri warga labundo – bundo, merupakan masyarakat yang kehidupannya mengandalkan dengan menjual rotan. Rata – rata jumlah pengumpul rotan di sekitar  hutan Lambusango sebanyak 36 orang.   

 

Ditengah sulitnya  ekonomi bangsa ini, ketika banyaknya pengangguran, susahnya lapangan pekerjaan dan naiknya harga BBM,  akan menjadi sulit bagi masyarakat tingkat bawah untuk hidup pada jaman sekarang. Hidup mencari rotan bukan sebuah cita-cita masyarakat pengumpul rotan. Hanya ada satu harapan dalam dirinya, bahwa mereka bisa mengambil rotan di dalam hutan. Lebatnya Hutan Lambusango bukan sebuah halangan. Tetapi karena nasib, kehidupan mencari rotan di jalani dengan ketabahan. Rata–rata mereka mengumpulkan pada bulan Agustus-Desember.

 

Keluarga pengumpul rotan termasuk keluarga pra sejahtera dengan memiliki anak 2-3 orang. Kondisi tersebut  dijalani dengan ketabahan dan keseriusan. Garis wajah pengumpul rotan sangat nampak sabar mereka  memungut rotan. Mungkin begitulah rezeki orang bawah tidak  bisa jauh- jauh  dari orang bawah juga.

 

Ketika matahari sebelum terbit, masyarakat pengumpul rotan bergegas pergi untuk mengambil rotan. Setelah beberapa jam lamanya sekitar 2 jam dengan jarak tempuh sekitar 5-10 km per hari.  Pengumpul rotan berjalan melalui jalan setapak menyusuri lebatnya Hutan Lambusango. Tidak peduli apa yang ada di dalam hutan, mereka menapakan kakinya di lantai hutan. Walaupun harga rotan masih rendah  dan tidak stabilnya  harga tidak membuat para pengumpul rotan mengurungkan niatnya untuk mencari rotan.

 

Pengambilan rotan di hutan selesai sebelum terbenamnya matahari. Pengumpul rotan membawa rotan ke penampungan rotan. Jalan untuk mengangkut rotan dari tempat pengambilan rotan memakai jalan setapak, tetapi ada juga yang menggunakan jalur sungai untuk membawa rotan ke tempat penampungan. 

 

Para Pengumpul rotan setiap harinya mendapat  rotan rata – rata 2-4 ikat atau 20-80 kg rotan Lambang atau  Batang. Harga per ikatnya kurang lebih Rp.50.000. atau harga perkilonya  Rp.850,- Jumlah ikatan rotan tergantung banyak tidaknya rotan yang ada di dalam hutan. Pada saat ini, bagi pengumpul rotan sangat merasakan begitu sulit mencari rotan  selain harganya yang murah juga jaraknya  pemungutan rotan begitu jauh,  juga potensi rotan sangat minim dilokasi hutan Lambusango.

 

Pengambilan rotan di hutan selesai sebelum terbenam matahari. Pengumpul rotan membawa rotan ke penampungan rotan (TPn) dari tempat pengambilan rotan memakai jalan setapak, tetapi ada juga yang menggunakan jalur sungai untuk membawa rotan ke tempat penampungan.