Menggalang Kesepakatan Pelestarian Mangrove Berbasis masyarakat
Pada Bulan pertengahan Pebuari dan Awal pertengahan Maret 2009 yang lalu, Tim penyadaran PNPMLMP (OWT) melakukan perjalanan menuju mawasangka. Ternyata secara lebih dekat Kecamatan mawasangka memiliki sumber daya alam yang kaya dengan hasil buminya, selain itu, kondisi pesisir pantai mawasangka menarik untuk dilihat pemandangan yang terhampar luas. Berdasarkan hasil survey penyadaran OWT dalam PNPMLMP pada tahun 2008 terdapat berbagai photo-photo laporan CSO PNPMLMP sebagai informasi tentang kecamatan mawasangka terakit mangrove. Hasil gambaran tersebut, yang melatarbelakangi adanya inisiasi kegiatan pelestarian mangrove di beberapa desa Kecamatan Mawasangka (dampingan Program PNPMLMP).
Dalam catatan profile tersebut, di sebutkan berbagai masalah dan potensi yang luar biasa seperti potensi hutan ,kelapa, ternak, terumbu karang, lahan kering , mata air dan mangrove. Berbagai potensi tersebut memang cukup menarik untuk kita perhatikan satu persatu, namun persoalan pesisir sangatlah prioritas dalam kerangka antar desa yang bisa disatukan,lalu di lakukan untuk kegiatan nyata dari semua pihak dalam kegiatan pelestarian sumber daya alam tersebut. Tidak hanya satu desa saja yang bisa dilakukan , tetapi adakah persoalan beberapa desa yang bisa diangkat menjadi sebuah topik diskusi di tingkat kecamatan yang menjadi perhatiaan semua pihak dan mengakar kepada multifungsi keberadaan alam. Awalnya pertanyaan tersebut belum terjawab, kami hanya melakukan perjalanan sambil bertemu beberapa tokoh – tokoh,KPMD , UPK (Pak Hamirudin) dan Pelaku PNPMLMP lainnya.
Selain keramahan pelaku PNPMLMP terutama Pak Hamirudin, di Kecamatan Mawasangka bertemu dengan para tokoh kecamatan terutama pelaku kegiatan PNPMLMP lainya (sebuah program Nasional untuk pemberdayaan masyarakat khususnya bidang lingkungan) yang kebetulan pada waktu itu saya ketemu dengan pak Suardi , beliau ini menjabat PJOK PNPM kecamatan yang sudah lama, bersama beliau saya melakukan diskusi dua arah terkait beberapa permasalahan lingkungan yang dihadapi kecamatan mawasangka. Singkatnya beliau mengatakan akan keresahan terjadinya abrasi yang terjadi di beberapa desa peisisir mawasangka dari ujung ke ujung yang dialami oleh masyarakat pesisir.
Menurut pemaparannnya, kita harus berbuat sesuatu demi terjaganya pesisirnya untuk masyarakat. Diwilayah kita ada tanaman mangrove yang tumbuh, dan ini sangat bagus kalau bisa menjadi alat penyadaran. Karena persoalan lingkungan ini sangat penting dan perlu secepatnya kita atasi dan kebetulan kita ada kegiatan pemerintah tentang lingkungan ini. Akhirnya saya memutuskan untuk observasi lapangan kembali guna melihat dan memperkuat hasil pembicaraan tersebut.
Bersama Fasilitator Lingkungan (Abuhuraerah), kita menyisir desa – desa yang terkena abrasi yang kebetulan ada diwilayah lokasi mangrove. Pada waktu itu saya memasuki kelurahan mawasangka ketemu dengan tokoh KPMD yaitu Bapak Amran, menurut keterangan beliau di kelurahan mawasangka pernah ada kegiatan penanaman mangrove yang dilakukan oleh pihak pemerintah (UPTD Kehutanan) dan ada juga yang tumbuh alami terbawa arus, lalu sesuai tugas saya (katanya) sebagai wakilnya bapak FK saya juga mengajak kepada masyarakat untuk menanam mangrove , karena fungsi dan manfaat mangrove sangat penting untuk menjaga pantai dari abrasi yang menurut dia secara kerjanya bisa dilakukan oleh masyarakat, apalagi didaerah sini tidak sulit cari bibit mangrove. Wajar kalau nanti di program PNPMLMP kelurahan kita mengusulkan penanaman mangrove.
Selanjutnya perjalanan dilakukan ke wilayah desa lainnya yang memiliki mangrove (bakau) berada di Desa Oengkolaki,Banga,Tanailandu,Kanapa-napa,Terapung. Saat itu, melakukan FGD (Focus Diskusi Group) bersama beberapa tokoh yang hadir di rumahnya masing-masing kepala desa. Awalnya hanya mau melihat sejauh mana pemahaman para tokoh masyarakat dalam melihat seberapa penting mangrove untuk dilestarikan tanpa menghilangkan mata pencaharian masyarakat sekitar desa tersebut.
Ternyata pemahaman ini sudah sejak lama mereka khawatirkan tentang ancaman yang yang akan terjadi ketika mangrove tersebut musnah, menurut kepala Desa Oengkolaki mangrove ini tanaman yang alami dan sudah lama tumbuh sejak lama diwilayanyah. Boleh dibilang mangrove ini cukup subur dan menambah pendapatan masyarakat dari keberadaanya. Hal ini mereka pertegas lagi selain budidaya agar-agar dan sumber pencarian nafkah yaitu ikan dan kepiting, Tahun 1980an terjadi pembukaan lahan mangrove menjadi tambak ikan bandeng, yang pada saat itu menarik perhatian berbagai pihak sehingga mau memberikan modal di wilayah tersebut untuk bertambak bersama – sama, namun pada saat ini tambak – tambak ini tidak menghasilkan lagi. Sehingga bagus sekali kalau ada rehabilitasi tambak dan dikembalikan kepada fungsinya.
Kegiatan penyadaran yang dilakukan dari pintu ke pintu kepada para pemegang (tokoh) wakil masyarakat memang cukup efektif , dalam kerangka mengetuk hati warga masyarakat sekitar mangrove , secara kebetulan sebelum kedatangan team penyadaran dari Wallacea trust , warga masyarakat sudah khawatir akan keberadaan lokasi mangrove tersebut. Selain itu warga masyarakat merasa kebingungan dengan keberadaan kondisi mangrove yang sudah terbuka, terutama pembukaan lahan tambak dan mau diapakan lokasi tersebut. Ketika ada yang menanam tapi ko masih aja ada yang mengambil, memotong dan mejual kayu jadi kayu bakar atau di jual ke bau – bau.
Bahkan hal ini kalau di biarkan secara lama – kelamaan akan menjadi budaya tanpa adanya aturan yang bisa disepakati dengan cukup jelas. Hal seperti ini akan menjadi dilema, ketika ada sebuah kegiatan rehabilitasi tanpa di bekali dengan pengetahuan manfaat mangrove, juga hasilnya pun tidak dipelihara tentunya hanya motivasi proyek saja. Sekilas dalam menggagas kesepakatan di warga sudah mengalir begitu saja, dan memang dirasakan betul oleh masyarakat akan keberadaan mangrove itu. Menurut masyarakat yang berhasil di wawancara , bahwa ikan , kepiting bakau sangat mudah kita dapat, sekarang pun masih ada tetapi, hanya sedikit ini sudah menjadi tanda – tanda alam yang terjadi kerusakan bakau tempo lalu saat ini kami merasakan hal ini.
Keluh kesah ini pun dirasakan oleh kepala desa terapung dulu dan sekarang jauh sangat berbeda , kondisi mangrove sangat-sangat menurun (jangan Tanya manfaat mangrove, khususnya saya sudah tahu manfaat mangrove). Lanjutnya… begini pak sekarang ini, ada juga mangrove yang kering akibat pembukaan lainnya seperti jalan , pemukiman. Memang sudah ada kesepakatan didesa kami semenjak adanya program Coremap 2, bahkan sudah membentuk tim didesa untuk penanggulangan masalah pesisir secara kolaboratif, juga sudah ada janji penanaman mangrove dari Dinas Kehutanan seluas 25 hektare . Pokoknya saya sudah sering mengerutkan dahi ini melihat kerusakan mangrove yang lambat laut bisa jadi musnah pak. Bagus juga kalau program pemerintah ada menanam mangrove tapi adajuga perdes atau apa namanya yang menjadi payung hukum yang dibuat secara bersama di tingkat kecamatan atas desa – desa rumpun mangrove. Saya merasa akan banyak teman-teman yang menjaga akan musnahnya mangrove ini sebagai pelindung pantai.
Akhirnya perjalanan tersebut saya tutup dengan melihat-lihat kondisi fakta lapangan, masuk kebeberapa lokasi yang diceritakan oleh para tokoh tersebut. Memang benar, kondisi mangrove mawasangka sudah terbuka lebar,disekitar mangrove dekat jalan pun kering kerontang. Sama persis apa yang digambarkan oleh pewakil mangrove saat berdiskusi ketika melakukan proses Focus Diskusi group dengan para tokoh masyarakat sekitar mangrove.
Harapanya kedepan tawaran perwujudan komitmen kesepakatan dapat didorong dari tingkat pelaku kecamatan secara multipihak terlebih dahulu, akhirnya MUSPIKA dengan perangkat kepala desa dapat mensosialisasikan di tingkat desa dan dusun setelah adanya piagam kesekapatan mangrove, apalagi adanya program PNPMLMP, program ini masyarakat yang merencanakan dari, oleh dan untuk masyarakat. Sehingga perwujudan daya dukung mangrove sebagai benteng pesisir dapat di pahami oleh masyarakat secara luas sebagai benteng dari ancaman bencana alam (Ombak besar, Abrasi dan angin ).


